Entri Populer

Selasa, 04 Desember 2012

Nikmatnya Tubuh Mungil Marlen

Nikmatnya Tubuh Mungil Marlen - Nikmatnya Tubuh Mungil Marlen | Namaku Andi, Cerita Seks Remaja : ketika aku SMP, aku tinggal dengan saudaraku di Jakarta, Cerita Seks Remaja : di rumah itu aku bersama tiga orang anak dari saudaraku itu yang usianya sebayaku kecuali Marlena si bungsu, gadis kecil yang masih kelas enam SD.


Setahun sudah aku tinggal dengan mereka, di usia puber sepertiku, semakin hari tubuh Marlena yang biasa kupanggil Lena, terlihat semakin bongsor saja, dengan kulitnya yang putih bersih semakin terlihat menggairahkan nafsuku. Maklumlah turunan dari ibunya yang bertubuh bongsor dan montok. 

Setiap pulang sekolah aku selalu meluangkan waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan Lena, sekedar untuk melihatnya dari dekat, apalagi payudaranya mulai terlihat bentuknya. Aku pun mulai mengincarnya, suatu ketika aku akan mendekatinya, pikirku. 

Dihari berikutnya saat Marlena pulang dari sekolah langsung menuju ke kamar tempat cucian-cucian yang belum kering, karena di rumah lagi tidak ada orang, akupun mengikutinya. Aku berusaha agar kedatanganku tidak mengagetkannya. 
"Len..udah pulang..?" iya kak, sambil melepas sepatunya. 
"Awas dong..mau ganti baju nih..!" katanya memohon. 
"Iya..aku keluar deh..tapi kalo udah ganti baju boleh masuk lagi ya..!" pintaku padanya. 
"Iya....boleh.." ungkapnya. 


"Aku masuk ya..!" pintaku dari luar sambil membuka pintu. Wow..seperti bidadari Marlena memakai daster kecilnya yang bertali satu, jantungku berdegup kencang seakan tidak percaya akan pemandangan itu. 
"Len..kamu cantik sekali pakai baju itu..!" ungkapku jujur padanya. 
"Masa sih..!" kata Marlena sambil berputar bergaya seperti peragawati. 
"Aku boleh bilang sesuatu nggak Len..?" tanyaku agak ragu padanya. 
"Mau bilang apaan sih kak..serius banget deh kayaknya..!" ungkap Marlena penasaran. 
"A..aku.. boleh peluk kamu nggak..,sebentar aja..!" ungkapku memberanikan diri. 
"Aku janji nggak ngapa-ngapain...sungguh..!" janjiku padanya. 
"Iiih..peluk gimana sih.., emang mau ngapain.., nggak mau ah..!" bantahnya. 
"Sebentar...aja...ya..Len.." kembali aku membujuknya, jangan sampai dia jadi takut padaku. 
"Ya udah cepetan ah..yang enggak-enggak aja sih.." ungkapnya agak genit sambil berdiri membelakangiku. 

Cerita Seks Remaja : Tak kusia-siakan aku langsung memeluknya diri belakang, tanganku melingkar di tubuhnya yang kecil mulus, dan padat itu, lalu tanganku kuletakkan di bagian perutnya, sambil ku usap-usap dengan perlahan. 
Gila..kontolku langsung berdenyut begitu menyentuh pantat Marlena yang empuk dan bentuknya sedikit menungging menyentuh ke arah kontolku. Langsung saja kugesek-gesekkan pelan-pelan di pantatnya itu. 
"Iiih...diapain sih tuh..udah...ah..!" seru Marlena sambil berusaha melepaskan pelukanku. 
"Aku terangsang Len..abis kamu cantik sekali Len..!" ungkapku terus terang. 

Marlena pun membalikkan badannya menghadapku, sambil menatapku penuh rasa penasaran. 
"Anunya bangun ya kak..?" tanya Marlena heran. 
"Iya Len..aku terangsang sekali.." ungkapku sambil mengelus-elus celanaku yang menyembul karena kontolku yang sudah tegang. 
"Kamu mau lihat nggak Len..?" tanyaku padanya. 
"Nggak ah..entar ada orang masuk lho..!" katanya polos. 
"Kita kunci aja dulu pintu gerbangnya ya..!" ungkapku, sambil beranjak mengunci pintu gerbang depan. 
Sementara Marlena menungguku dengan sedikit salah tingkah di kamar itu. 

Sekembali mengunci pintu gerbang depan, kulihat Marlena masih di kamar itu menunggu dengan malu-malu, tapi juga penasaran. 
"Ya udah aku buka ya....?" ungkapku sambil menurunkan celana pendekku pelan-pelan. 
Kulihat Marlena mengbuang muka pura-pura malu tapi matanya sedikit melirik mencuri pandang ke arah kontolku yang sudah kembali ngaceng. 
"Nih lihat...cepetan mumpung nggak ada orang..!" ungkapku pada Marlena sambil kuelus-elus kontolku di depannya. Marlena pun melihatnya dengan tersipu-sipu. 
"Iiih ngapain sih... Malu tahu..!" ungkapnya pura-pura. 
"Ngapain malu Len..kan udah nggak ada orang.." kataku berdebar-debar. 
"Mau pegang nggak...?" Ungkapku sambil menarik tangan Marlena kutempelkan ke arah kontolku. Tampak muka Marlena mulai memerah karena malu, tapi penasaran. Masih dalam pegangan tanganku, tangan Marlena kugenggamkan pada batang kontolku yang sudah ngaceng itu, sengaja ku usap-usapkan pada kontolku, dia pun mulai berani melihat ke arah kontolku. 

"Iiiih..takut ah..gede banget sih..!" ungkapnya, sambil mulai mengusap-ngusap kontolku, tanpa bimbinganku lagi. 
"Aaaah..ooouw...terus Len..enak banget..!" aku mulai merintih. Sementara Marlena sesuai permintaanku terus menggenggam kontolku sambil sesekali mengusap-usapkan tangannya turun naik pada batang kontolku, rasa penasarannya semakin menjadi melihat kontolku yang sudah ngaceng itu. 
"Aku boleh pegang-pegang kamu nggak Len..?" ungkapku sambil mulai mengusap-usap lengan Marlena, lalu bergeser mengusap-usap punggungnya, sampai akhirnya ku usap-usap dan kuremas-remas pantatnya dengan lembut. Marlena terlihat bingung atas tingkahku itu, di belum mengerti apa maksud dari tindakanku terhadapnya itu, dengan sangat hati-hati rabaan tanganku pun mulai keseluruh bagian tubuhnya, sampai sesekali Marlena menggelinjang kegelian, aku berusaha untuk tidak terlihat kasar olehnya, agar dia tidak kapok dan tidak menceritakan ulahku itu kepada orang tuanya. 
"Gimana Len.....?" ungkapku padanya. 
"Gimana apanya..!" jawab Marlena polos. 

Aku kembali berdiri dan memeluk Marlena dari belakang, sementara celanaku sudah jatuh melorot ke lantai, sekalian saja kulepas. Marlena pun diam saja saat aku memeluknya, sentuhan lembut kontolku pada daster mini warna bunga-bunga merah yang dipakai Marlena membuatku semakin bernafsu padanya. akupun terus menggesek-gesekkan batang kontolku di atas pantatnya itu. Sementara tangan Marlena terus menggenggam batang kontolku yang menempel di pantatnya, sesekali dia mengocoknya pelan-pelan. 
Tak lama setelah itu perlahan kuangkat daster tipis Marlena yang menutupi bagian pantatnya itu, lalu dengan hati-hati kutempelkan batang kontolku diatas pantat Marlena yang tidak tertutupi oleh daster tipinya lagi. 
"Len...buka ya celana dalamnya...!" pintaku pelan, sambil membelai rambutnya yang terurai sebatas bahunya itu. 
Cerita Seks Remaja : "Eeeh...mau ngapain sih...pake dibuka segala..?" tanyanya bingung. 
"Nggak apa-apa nanti juga kamu tahu.. Lena tenang aja..!" bujukku padanya agar dia bersikap tenang, sambil perlahan-lahan aku turunkan celana dalam Marlena. 
"Tuh kan....malu..masa nggak pake celana dalam sih..!" ungkapnya merengek padaku. 
"Udah nggak apa-apa...kan nggak ada siapa-siapa..!" aku menenangkannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Label